This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Investasi Rumah Mewah

Harga properti tidak akan pernah turun

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, 6 March 2019

Analis proyeksikan sektor properti belum bangkit tahun 2019, ini penyebabnya

Sepanjang tahun 2018 kinerja sektor properti belum mendapat sentimen kuat untuk bertumbuh. Alhasil, analis memproyeksikan penjualan properti secara umum belum akan tumbuh signifikan di tahun 2019. Namun, beberapa sentimen positif masih bisa diharapkan untuk menyokong kinerja beberapa emiten di sektor properti. Analis Mega Capital Sekuritas Adrian M Priyatna mengamati kinerja sektor properti dalam beberapa tahun belakangan belum begitu kuat. Kenaikan harga lahan yang terus naik dari tahun ke tahun karena keterbatasan persediaan serta naiknya harga bahan baru menyebabkan harga properti kian meroket dan berdampak pada turunnya permintaan. Bagaimana tidak, tingkat pertumbuhan ekonomi di sepanjang tahun 2018 masih cenderung flat di kisaran 5% lantaran daya beli masyarakat juga tidak banyak menguat.

Belum lagi, sektor properti juga tertekan suku bunga acuan Bank Indonesia yang cenderung naik dan menyebabkan tingkat suku bunga bank terkerek. "Faktor tersebut menyebabkan permintaan properti cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir," kata Adrian, Jumat (28/12).

Di tahun 2019, Adrian memproyeksikan sentimen-sentimen negatif tersebut kemungkinan besar masih akan menekan kinerja sektor properti. Apalagi, di tahun politik atau jelang Pemilu umumnya, sikap investor cenderung berhati-hati untuk membeli aset properti. "Mengingat ada kemungkinan perubahan skenario yang mungkin akan mengubah nilai properti yang mereka miliki," kata Adrian.

Di tengah sentimen negatif yang masih menyelimuti, sektor properti juga memiliki sentimen positif yang diharapkan bisa mendongkrak kinerja sektor ini. Diantaranya, relaksasi Loan to Value (LTV) yang menurut Adrian bisa berdampak positif pada kinerja sektor properti.

Selain itu, kenaikan tingkat suku bunga yang cenderung terbatas di 2019 karena The Fed akan mengurangi kenaikan suku bunga acuannya, juga berdampak positif bagi sektor properti. Namun, tetap Adrian memproyeksikan permintaan properti belum akan meningkat pesar di tahun 2019. "Mungkin dua hingga tiga tahun lagi," kata Adrian.

Adrian menjagokan BSDE di sektor properti dengan target harga Rp 1.550 per saham dengan rekomendasi buy.

BSDE jadi unggul karena membangun banyak landed house yang masih menjadi opsi utama bagi masyarakat untuk jadi tempat tinggal, selain itu landbank BSDE yang paling luas dari kompetitornya," kata Adrian.Sumber  Klik disini



Monday, 4 March 2019

Menakar Prospek Bisnis Properti Tahun 2019

Pemilu serentak akan dilaksanakan pada April 2019 mendatang. Kendati situasi politik kerap dikaitkan dengan ketidakpastian, tidak demikian dengan properti. Managing Director Sinarmas Land Dhony Rahajoe mengatakan, hampir setiap tahun pemilu dilaksanakan di Indonesia. Meskipun, bukan dalam skala nasional. Optimisme bahwa bisnis ini akan berjalan positif lantaran masih tingginya angka kebutuhan rumah yang beluk terpenuhi atau backlog. Terutama, kebutuhan rumah bagi segmen menengah ke bawah.
"Kalau saya lihat siklus ini, kan pemilu sudah dilakukan berkali-kali ya. Namanya penjualan rumah ya tetap akan optimistis, tanah akan tetap dibutuhkan. Jadi kami tetap yakin 2019 baik untuk investasi properti," kata Dhony dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (17/12/2018). Sinyal kenaikan properti tersebut, kata dia, sudah terlihat sejak tahun ini. Walaupun kenaikannya dirasakan belum teralu signifikan. "Khusus perumahan, apalagi kalau lihat year on year semester pertama dari KPR yang disalurkan Bank BTN itu di atas angka rata-rata yang dihitung OJK, (yaitu) 19 persen," ungkap Dhony. Untuk diketahui, PT Bank Tabungan Negara (BTN) mencatat pertumbuhan kredit sebesar 19,28 persen menjadi Rp 220,07 triliun pada kuartal III 2018 ini. Angka tersebut meningkat dari penyaluran kredit BTN di kuartal III tahun 2017 yang sebesar Rp 184,5 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong kenaikan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi yang disalurkan melalui kucuran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). "Jadi kita melihat ada tren naik. Apalagi yang milenial ini sudah mulai ada kebutuhan dan banyak relaksasi yang diberikan pemerintah," imbuh dia. Alih-alih memberikan pengaruh signifikan, menurut Dhonie, kondisi perekonomian global justru lebih berpengaruh daripada kondisi politik dalam negeri. Perang dagang antara Amerika Serikat-China, serta rencana kenaikan suku bungan Bank Sentral AS, dipastikan dapat memberikan pengaruh besar terhadap industri properti Tanah Air. "Kalau suku bunga naik, maka bunga konsumsi juga naik. Jadi sangat besar pengaruhnya. Harapannya yang optimis kita berharap pemerintah bisa menjaga stabilitas bunga di Indonesia sehingga bisa terjangkau," harap dia. Sumber klik disini

Friday, 15 February 2019

Pemilu serentak akan dilaksanakan pada April 2019 mendatang. Kendati situasi politik kerap dikaitkan dengan ketidakpastian, tidak demikian dengan properti. Managing Director Sinarmas Land Dhony Rahajoe mengatakan, hampir setiap tahun pemilu dilaksanakan di Indonesia. Meskipun, bukan dalam skala nasional. Optimisme bahwa bisnis ini akan berjalan positif lantaran masih tingginya angka kebutuhan rumah yang beluk terpenuhi atau backlog. Terutama, kebutuhan rumah bagi segmen menengah ke bawah. Baca juga: Pertumbuhan Properti Saat Ini Lebih Didorong Faktor Infrastruktur "Kalau saya lihat siklus ini, kan pemilu sudah dilakukan berkali-kali ya. Namanya penjualan rumah ya tetap akan optimistis, tanah akan tetap dibutuhkan. Jadi kami tetap yakin 2019 baik untuk investasi properti," kata Dhony dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (17/12/2018). Sinyal kenaikan properti tersebut, kata dia, sudah terlihat sejak tahun ini. Walaupun kenaikannya dirasakan belum teralu signifikan. "Khusus perumahan, apalagi kalau lihat year on year semester pertama dari KPR yang disalurkan Bank BTN itu di atas angka rata-rata yang dihitung OJK, (yaitu) 19 persen," ungkap Dhony. Untuk diketahui, PT Bank Tabungan Negara (BTN) mencatat pertumbuhan kredit sebesar 19,28 persen menjadi Rp 220,07 triliun pada kuartal III 2018 ini. Angka tersebut meningkat dari penyaluran kredit BTN di kuartal III tahun 2017 yang sebesar Rp 184,5 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong kenaikan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi yang disalurkan melalui kucuran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). "Jadi kita melihat ada tren naik. Apalagi yang milenial ini sudah mulai ada kebutuhan dan banyak relaksasi yang diberikan pemerintah," imbuh dia. Alih-alih memberikan pengaruh signifikan, menurut Dhonie, kondisi perekonomian global justru lebih berpengaruh daripada kondisi politik dalam negeri. Perang dagang antara Amerika Serikat-China, serta rencana kenaikan suku bungan Bank Sentral AS, dipastikan dapat memberikan pengaruh besar terhadap industri properti Tanah Air. "Kalau suku bunga naik, maka bunga konsumsi juga naik. Jadi sangat besar pengaruhnya. Harapannya yang optimis kita berharap pemerintah bisa menjaga stabilitas bunga di Indonesia sehingga bisa terjangkau," harap dia. Sumber Klik di sini