Belum lagi, sektor properti juga tertekan suku bunga acuan Bank Indonesia yang cenderung naik dan menyebabkan tingkat suku bunga bank terkerek. "Faktor tersebut menyebabkan permintaan properti cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir," kata Adrian, Jumat (28/12).
Di tahun 2019, Adrian memproyeksikan sentimen-sentimen negatif tersebut kemungkinan besar masih akan menekan kinerja sektor properti. Apalagi, di tahun politik atau jelang Pemilu umumnya, sikap investor cenderung berhati-hati untuk membeli aset properti. "Mengingat ada kemungkinan perubahan skenario yang mungkin akan mengubah nilai properti yang mereka miliki," kata Adrian.
Di tengah sentimen negatif yang masih menyelimuti, sektor properti juga memiliki sentimen positif yang diharapkan bisa mendongkrak kinerja sektor ini. Diantaranya, relaksasi Loan to Value (LTV) yang menurut Adrian bisa berdampak positif pada kinerja sektor properti.
Selain itu, kenaikan tingkat suku bunga yang cenderung terbatas di 2019 karena The Fed akan mengurangi kenaikan suku bunga acuannya, juga berdampak positif bagi sektor properti. Namun, tetap Adrian memproyeksikan permintaan properti belum akan meningkat pesar di tahun 2019. "Mungkin dua hingga tiga tahun lagi," kata Adrian.
Adrian menjagokan BSDE di sektor properti dengan target harga Rp 1.550 per saham dengan rekomendasi buy.
BSDE jadi unggul karena membangun banyak landed house yang masih menjadi opsi utama bagi masyarakat untuk jadi tempat tinggal, selain itu landbank BSDE yang paling luas dari kompetitornya," kata Adrian.Sumber Klik disini

0 comments :
Post a Comment